Senin, 28 April 2008

Menggerutu..................


Ini merupakan kisah unik dan juga mendalam ketika saya mengalaminya. Sifat penggerutu bisa saja menjadi rasa yang menjengkelkan bagi orang yang mendengarnya. Tetapi bila anda menggerutu terus ditanggapi negatif, bagaimana?


Saya ketika itu menyampaikan ke teman saya, saya capek tadi pergi ke lokasi proyek tidak mendapatkan kemajuan laporan karena tim pelaksana lagi tidak di tempat. Kemudian saya sampaikan lokasi yang jauh telah mengakibatkan saya banyak mengeluarkan uang untuk perawatan kendaraan. Tanggapan teman saya, bagaimana? Dia bilang dalam bahasa Jawa yang saya belum tahu artinya kemudian saya bertanya lagi apa? Dia bilang saya kurang bersyukur. Saya terkejut, terus terang bukan tanggapan ini yang saya harapkan darinya. Saya pikir dia juga bilang sama, aku juga. Tapi tanggapan seperti itu… Terus terang usia dia jauh lebih tua dari saya, tetapi saya ras dia kurang mengerti maksud saya. Sampai sekarang saya sudah malas untuk bertanya-tanya tentang apa saja kepada teman saya tadi. Bukannya jengkel karena masalah itu.


Tetapi, mungkin saya takut dianggap penggerutu. Lebih baik saya pikirkan masalah saya saja. Daripada ngomong ke dia dan ternyata saya tahu dia tidak percaya kepada saya, banyak masalah di pekerjaan yang bisa dia cerita ke saya malah didiamkannya. He he. Ternyata saya selama ini dianggap kurang bisa menjadi teman bagi dia. Ya sudah, ada pengalaman yang berarti yang saya dapatkan dari kritikannya. Yaitu, kita mesti bersyukur walaupun berada dalam kondisi yang tidak kita inginkan. Saya pun menjadi diingatkan akan pesannya itu kepada teman yang telah membantu saya mendapatkan pekerjaan.


Sekarang sore ini 2 Oktober 2007, teman saya yang tidak mau mendengar gerutuan saya telp. Dia tidak mau lokasi proyeknya yang dikunjungi. Dia bagaikan kebakaran jenggot. Saya tahu maksudnya, tetapi lebih baik sekarang tidak blak-blakan saja. Diam itu emas.

Besok kalau saya tidak ketemu dengan mereka sesuai dengan kesepakatan saya berangkat langsung. Buat apa saya pikirkan, wong pikiran saya saja terhadap masalah yang saya hadapi sangat banyak. Lebih baik, diam saja dan mengiakannya.


Lagipula daripada berdebat saya menyenangkan dia saja. Kalau orang lagi berbicara mereka mau didengarkan bukan. Sedangkan ketika kita berbicara semua ingin mendengarkan. Lebih baik diam dan mendengarkan. Toh urusannya jadi cepat dan lebih cepat pula saya melakukan urusan saya selepas dia menelpon saya. Bukankah begitu???